KURSI ORANGE
(Cinta pertama tak selalu berakhir indah)


September 2009,
Setelah melewati masa orientasi kampus yang cukup panjang di Fakultas Ekonomi, akhirnya masa – masa menjadi mahasiswa yang sesungguhnya dimulai. Masuk ruang kelas, duduk di baris depan dengan teman – teman baru menunggu Dosen untuk datang sambil bercerita, menerima materi dari dosen sambil mencatat beberpa hal penting, sampai kuliah usai dan akhirnya keluar dan duduk – duduk di lorong kelas untuk menunggu kuliah selanjutnya.
Seperti itulah rutinitas yang aku lakukan setiap hari, bahkan dari pagi sampai sore hari. Apakah membosankan ? Tidak sama sekali. Memiliki teman – teman dari karakter dan suku yang beragam membuat hidup suana. Pagi hari kami Delapan teman, dengan Tiga lelaki dan Lima perempuan sesekali berjalan menuju tempat jualan nasi uduk yang cukup jauh (untuk ukuran anak manja) kami sarapan bersama, sambil mebicarakan banyak hal bersama, bahkan sampai ada dari kami yang berdebat tentang masalah perekonomian yang membuat gadung suasana. Sejujurnya, itu adalah suatu hal manis dari kami, yang membuat kampus seperti rumah kedua.

Sebulan berlalu, masing – masing dari kami mengukir cerita masing – masing. Mulai dari saling suka, atau tidak suka, cerita tugas kuliah yang kami kerjakan selalu bersama di rumah salah seorang dari kami yang memiliki fasilitas lengkap di rumahnya (yang menjadi pelengkap tersebut adalah, berlimpahnya makanan yang disiapkan oleh ibu teman kami) dan masih banyak cerita yang kami bawa.
Sampai akhirnya, cerita itu menjadi milikku. Ya, sesuatu yang sebenarnya ingin aku tinggalkan dan tidak untuk dilakukan kembali karena penyesalan dimasa lalu.

November 2009
Untuk wanita atau lelaki di seumuran kami itu adalah wajar untuk tertarik pada lawan jenis, tapi untukku bukan sesuatu yang harus diteruskan. Begitu ketertarikanku pada seorang senior di Jurusanku. Karena pada saat itu aku baru saja putus dan merasa malas untuk kembali mulai menyukai. Awalnya pengalihan dan pengabaian ketertarikan itu berhasil. Hanya mentap sekali ketika bertemu, lalu pergi. Dan semua pengalihan itu hancur, lalu berubah menjadi sangat kuat bahkan terasa aneh dimulai saat beberapa hari kami terlibat dalam acara penyambutan mahasiswa baru untuk khusus yang beragama Kristen.
Wah kami seagama. Pikirku. Ini membuat sebuah jalan yang terbuka lebar untuk menyukainya. Karena sudah menjadi prinsipku, ketika menyukai lawan jenis harus yang sepaan. Baiklah, di dalam bus menuju penginapan, mataku diam – diam selalu tertuju pada seniorku yang duduk di kursi depan sambil memakan beberapa snack. Ini masih perasaankagum yang wajar untukku, dan masih sama rasanya dengan pria – pria lainyang pernah aku suka.
Dalam penginapan, kami menikuti setiap sesi acara dengan baik. Aku tidak ada akses untuk bisa berada dekatnya, misalnya duduk bersebelahan saat materi atau berada satu kelompok saat games, iyalah namanya masih anak baru . Karena acara yang dikemas panitia juga memang menarik sehingga seyiap peserta memang dibuat fokus dengan materi yang akan disampaikan. Namun, ada saat – saat aku melihat sisi religius yang muncul tanpa dibuat – buat yang membuat aku semakin kagum. Ada sebuah kelembutan yang nampak dari cara ia bicara terutama pada wanita, tapi tetap ada sisi kejailan seorang pria yang membuatku kadang tertawa dengan tingkahnya. Ya, aku semakin penasaran, dalam kegiatan selama dua hari itu aku bisa memuatnya cukup untuk tau siapa namaku. Dan acara itu pun selesai.
Pertemuan selanjutya selalu terjadi di kampus, dan siang hari. Wajarlah dia hanya muncul pada siang hari, karena dia adalah mahasiswa tingkat akhir yang kekampus hanya utuk bimbingan saja. Saat – saat untuk saling melihat itulah yang membuatku lebih bersemangat untuk datang kekampus. Berjalan melewati lorong gedung kuliah, lalu jantung berdebar ketika mendekati deretan kursi warna orange, sambil bertanya dalam hati, apakah dia duduk disana ? apakah dia ada ?
Lalu bila ada sosoknya, dari kejauhan mampu untuk melihat, tapi semakin mendekat semakin menunduk, lalu diam dan berjalan dengan cepat. Saat sudah jauh, berbalik melihatya dari belakang lalu tersenyum lega.
Ini gila, perasaan yang mengubah karakterku yang aktif berubah menjadi dam bila didekatnya. Dan perasaan ini juga yang mendorogku untuk mencari Facebooknya, lalu menambahkannya sebagai teman. Dan ketika permintaan teman di konfirmasi, lalau menuliskan ucapan terimakasih di dinding Facebookku, jantungku berdetak hebat, aku kegirangan, serta kebingungan untuk menjawab apa. Lalu sesaat dari konfirmasi pertemanan itu, aku berubah menjadi seorang Stalker. Kuliat semua informasi tentangnya, fofo – fotonya, motto hidupnya. Dan aku sampai di sebah kesimpulan, bahwa dia abang yang baik bagi ketiga adik perempuannya, seorang kristen yang taat dari aktifnya dia di organisasi gerejanya dan kampusnya, dan lelaki yang cukup dekat dengan Tuhannya karena motto hidupnya Kolose 3:23.
Ini gila, aku lupa akan janji ku untuk tidak suka pada lelaki, aku lupa bahwa aku pernah takut untuk menyukai lelaki lagi semenjak mencari tahu tentangnya. Semua berubah, hari – hari dikampuspun ikut berubah dengan berkembangnya perasaan ini. Aku mulai berani menatap wajahnya, lalu memalingkan mukasaat dia melihat ke arahku. Tidak kapok dan takut ketauhan aku mengulanginya lagi, selama ada kesempatan. Jujur saja, itu memberkan kebahagian dan kepuasan tersendiri mengamati seseoang yang kau suka dari kejauhan.



Perasaan yang aku nikmati sendiri semakin lama – semakin menjadi, sampai teman – teman dekatku menyadari perubahan sikapku bila ada didektnya meski tanpa saling menyapa. Wajahku yang merona saat kami akan berpapasan, lalu aku meoleh kebelakang dan kembali berputar dengan wajah tersenyum mulai disadari mereka. Dan mau tidak mau aku pun mengakuinya, kini semua teman dekatku mengetahuinya. Dan ini adalah bencana, karena akan berhadapan dengan kejahilan mereka. Sekarang, setiap kami sedang duduk di lorong kelas dan abang akan melintas teman – teman akan menggodaku dengan suara yang sangat keras. “Tamat sudah semua, abang pasti yau kalo gini” dalam hatiku sambil menahan malu.

Perasaan ini semakin besar, dan menemukan keegoisan dan ketulusan secara bersamaan.
Detak jantung semakin tidak karuan bila seakan berpapasan dijalan, lalu aku mulai tak terkendali. Setiap bertemu aku tidak berani menatap lagi, tapi aku akan berlari, bersembunyi, mencari kamar mandi aatau apapun itu untuk menyembunyikan diri. Aku sadar ini bodoh, dan justru terlihat aneh didepannya dan sebuah lelucon untuk kawan – kawanku. Tapi sungguh ini tak tekendali. Menjadi sekamin tak terkendali dengan beberapa kejadian yang menimbulkan harapan bahwa ini bukan milikku sendiri.
Kami saling memergoki saling mencuri pandang.
Aku yang hanya mampu memberi doa lewat status untuk kelancaran hari pentingnya, yang lalu mendapat LIKE. Dan itu benar – benar membuatku ketakutan, seakan tahu bahwa status itu untuknya, disisi lain aku bahagia jika dia menyukainya.
 Memberikan aku makanan snacknya kepadaku karena aku mencari yang ada dadar gulungnya, dan ternyata sudah habis. Lalu dia melemparkan makannya kepadaku sambil berkata, “ini buat lo, ren” ketika kami dalam suatu acara.
Dan saat dalam acara paskah saat kami semua berkumpul diluar untuk poto bersama, setelah selesai itu aku bertanya pada yang lain apakah memiliki baterai yang sama dengan tipe hapeku. Aku mau pinjam untuk meminta jemput pada adikkku. Mereka menjawab tidak ada, tapi abang yang berjarak beberapa orang duduknya dariku, lalu kembali melemparkan baterai hapenya kepangkuanku, sambil berkata “nih, ren”.
Aku yang mendapat tulisan diding Facebookku darinya, saat tertekan dengan keadaan dikampus darnya yang berisi Firman Tuhan tentang Kopi, Wortel, dan Telur untuk memberikan nasihat tentang bagaimana aku harus menyikapi keadaan.
Semua kejadian itu memberiku harapan bahwa ini bukan perasaan yang aku miliki sendiri. Harapan – Harapan yang muncul dari semua perhatian yang diberi selama ini.

Desember 2010
Sampai akhirnya aku sadar, itu hanya pendapatku sendiri.
Sampai akhirnya aku tau bahwa aku harus berhenti. Karena dia akan segera pergi setelah wisudanya dan kembali ketempat asalnya di Jakarta. Bahwa tidak mungkin aku terus menahan sendiri. Sakit menahan perasaan itu membuat ego ku besar, aku tak mau mengucapkan selamat wisuda untuknya bahkan tak mau untuk mencarinya, karna ini adalah akhir dari semuanya. Bahwa selama setahun ini aku hanya kepedean sendiri dengan semua kenaikkannya membuatku ingin menyudahi perasaan ini.
Aku marah, mengapa dia harus memberikan perhatian kepadaku, tapi tidak berusaha menghubungiku. Aku kecewa,mengapa dia harus tertangkap olehku, sedang berbalik kebelakang melihatku, saat aku yang biasanya berbalik melihat punggungnya. Aku bertanya untuk apa dia melakukan itu semua, lalu akan pergi meninggalkannya.

Sampai setelah beberapa bulan kepergianny, aku ternyata tidak benar – benar melupakannya.
Aku masih saja memandang kursi orange tempat biasa ia duduk lalu membayangkan wajahnya. Lalu tersenyum mengingat semua tentang nya. Masa kuliahku selalu ditemani oleh banyangnya dan kenangan tentangnya, terutama saat aku yang duduk di kursi orange ini. Deretan kursi orange yang membuatku berdetak setiap melewatinya, lalu sedih saat aku mendudukinya, kemudian tersenyum membanyangkan sosok yang sedikit tambun, bermata sipit, bekulit bersih dan penampilan yang rapih sera jam tangan hitam yang selalu dikenakannya, sembari menunggu dosen untuk bimbinganku.

Agustus 2013

Dan ku belajar arti ketulusan darinya, bahwa ketika menyayangi seseorang tak apa kita tak memilikinya, tak apa kita tak mendapat balasannya. Karena aku hanya perlu berdoa untuknya. Dan Empat tahun sudah aku mengagumi sosoknya, Selama proses itu aku belaja banyak hal tentang arti menyayangi. Bahwa hanya perlu ketulusan untuk tidak merasa tersakiti.
Dan selama empat tahun itu, hatiku benar – benar untuknya, sampai seolah ilusi tentangnya benar – benar nyata dan kembali membuatku berdetak dan bertanya apakah dia kembali ? tapi ternyata hanya orang lain yang wajahnya serupa (agak drama, tapi ini beneran pernah kejadian). Tak berani aku menerima orang lain ketika aku masih menyukainya. Karena sebuah kejahatan bila aku menerima seseorng yang tulus hanya untuk pelarian.
Dan aku tidak menyesal dengan kesendirian selama ini. Setidaknya aku sadar aku wanita yang setia.
Dan sampai akhirnya aku yakin ini sudah selesai, memang dia adalah sosok yang baik, yang menganggapku adiknya. tapi aku kembali berfikir tak butuh lelaki, karena mencintai sendiri itu benar – benar menyiksa. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar